MATERI PAI KELAS XI
TAAT KEPADA PERATURAN
A. Pentingnya Taat kepada Aturan
Taat memiliki
arti tunduk (kepada Allah Swt., pemerintah, dsb.) tidak berlaku curang, dan
atau setia. Aturan adalah tindakan atau perbuatan yang harus dijalankan. Taat
pada aturan adalah sikap tunduk kepada tindakan atau perbuatan yang telah
dibuat baik oleh Allah Swt., nabi, pemimpin, atau yang lainnya.
Di sekolah terdapat
aturan, di rumah terdapat aturan, di lingkungan masyarakat terdapat aturan, di
mana saja kita berada, pasti ada aturannya. Aturan dibuat tentu saja dengan
maksud agar terjadi ketertiban dan ketenteraman. Mustahil aturan dibuat tanpa
ada tujuan. Oleh karena itu, wajib hukumnya kita menaati aturan yang berlaku.
Aturan yang
paling tinggi adalah aturan yang dibuat oleh Allah Swt., yaitu terdapat pada
al-Qur’ān. Sementara di bawahnya ada aturan yang dibuat oleh Nabi Muhammad
saw., yang disebut sunah atau hadis. Di bawahnya lagi ada aturan yang dibuat
oleh pemimpin, baik pemimpin pemerintah, negara, daerah, maupun pemimpin yang
lain, termasuk pemimpin keluarga.
Peranan pemimpin sangatlah
penting. Sebuah institusi, dari terkecil sampai pada suatu negara sebagai
institusi terbesar, tidak akan tercapai kestabilannya tanpa ada pemimpin. Tanpa
adanya seorang pemimpin dalam sebuah negara, tentulah negara tersebut akan
menjadi lemah dan mudah terombang-ambing oleh kekuatan luar. Oleh karena itu,
Islam memerintahkan umatnya untuk taat kepada pemimpin karena dengan ketaatan
rakyat kepada pemimpin (selama tidak maksiat), akan terciptalah keamanan dan
ketertiban serta kemakmuran.
Aktivitas Siswa:
Identifikasilah aturan-aturan yang ada di sekolah, di rumah, maupun di
masyarakat.
Lalu, jelaskan hubungannya antara
aturan dan kondisi sosial tersebut!
AYAT YANG BERKAITAN DENGAN TAAT PADA PERATURAN
QS. AN NISA AYAT 9
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ
آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ ۖ
فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ
كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ
تَأْوِيلًا
artinya : Hai orang-orang
yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara
kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah
ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman
kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan
lebih baik akibatnya.
Penerapan Hukum Tajwidnya
:
|
Kata/kalimah |
Hukum Bacaan |
Alasan |
|
يَا أَيُّهَا |
mad jaiz munfasil |
ada mad thobi'i bertemu
hamzah tidak dalam 1 kalimah |
|
الَّذِينَ |
idghom syamsyiyah |
ada alif lam diikuti
salah satu huruf syamsyiyah yaitu huruf lam |
|
آمَنُوا أَطِيعُوا |
mad jaiz muttasil |
ada mad thobi'i
bertemu hamzah tdk dalam 1 kalimah, dan ada mad thobi'i asli juga karena ada
kasroh diikuti ya' sukun |
|
اللَّهَ |
tafhim |
ada lam jalalain
didahului dhommah |
|
وَأَطِيعُوا |
mad thobi'i |
ada kasroh diikuti ya'
sukun |
|
الرَّسُولَ |
idghom syamsyiyah |
ada alif lam diikuti
huruf syamsyiyah yaitu huruf ro' |
|
الْأَمْرِ |
idhar qomariyah |
ada alif lam diikuti
huruf qomariyah yaitu huruf alif |
|
مِنْكُمْ |
ihfa' haqiqi |
ada nun sukun bertemu
kaf |
|
فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ |
ihfa' haqiqi |
ada nun sukun bertemu
ta' |
|
تَنَازَعْتُمْ فِي |
idhar syafawi |
ada mim mati bertemu
fa' |
|
شَيْءٍ فَرُدُّوهُ |
ihfa' haqiqi |
ada tanwin diikuti fa' |
|
إِلَى اللَّهِ |
tafhim |
ada lam jalalain
didahului fathah |
|
وَالرَّسُولِ |
idghom syamsyiyah |
ada alif lam bertemu
ro' |
|
إِنْ كُنْتُمْ |
ihfa' haqiqi |
ada nun sukun bertemu
kaf, dan ada nun sukun bertemu ta' |
|
كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ |
idhar syafawi |
ada mim mati bertemu
ta' |
|
بِاللَّهِ |
tarqiq |
ada lam jalalain
didahului kasroh |
|
وَالْيَوْمِ |
idhar qomariyah |
ada alif lam bertemu
ya' |
|
الْآخِرِ |
idhar qomariyah |
ada alif lam bertemu
alif |
|
خَيْرٌ وَأَحْسَنُ |
idhom bighunna |
ada tanwin bertemu
wawu |
|
تَأْوِيلًا |
mad alid lis sukun |
ada mad thobi'i waqof |
|
ءَامَنُوٓاْ |
ٱلَّذِينَ |
يَٰٓأَيُّهَا |
|
beriman |
orang-orang
yang |
wahai |
|
وَأَطِيعُواْ |
ٱللَّهَ |
أَطِيعُواْ |
|
dan
taatlah |
Allah |
taatlah
kamu |
|
ٱلۡأَمۡرِ |
وَأُوْلِي |
ٱلرَّسُولَ |
|
Amri |
dan
ulil |
Rasul |
|
تَنَٰزَعۡتُمۡ |
فَإِن |
مِنكُمۡۖ |
|
kamu
berselisih |
maka
jika |
diantara
kamu |
|
فَرُدُّوهُ |
شَيۡءٖ |
فِي |
|
maka
kembalikanlah ia |
sesuatu |
dalam/tentang |
|
وَٱلرَّسُولِ |
ٱللَّهِ |
إِلَى |
|
dan
Rasul |
Allah |
kepada |
|
تُؤۡمِنُونَ |
كُنتُمۡ |
إِن |
|
(kamu)
beriman |
kalian
adalah |
jika |
|
ٱلۡأٓخِرِۚ |
وَٱلۡيَوۡمِ |
بِٱللَّهِ |
|
akhirat/akhir |
dan
hari |
kepada
Allah |
|
وَأَحۡسَنُ |
خَيۡرٞ |
ذَٰلِكَ |
|
dan
sebaik-baik |
lebih
baik/utama |
dmikian
itu |
|
تَأۡوِيلًا |
||
|
kesudahan/akibatnya |
Asbābu al-Nuzūl
atau sebab turunnya ayat ini menurut Ibn Abbas adalah berkenaan dengan Abdullah
bin Huzaifah bin Qays as-Samhi ketika Rasulullah saw. mengangkatnya menjadi
pemimpin dalam sariyyah (perang yang tidak diikuti oleh Rasulullah saw.).
As-Sady berpendapat bahwa ayat ini turun berkenaan dengan Amr bin Yasir dan
Khalid bin Walid ketika keduanya diangkat oleh Rasulullah saw. sebagai pemimpin
dalam sariyah.
Q.S. an-Nisā/4: 59 memerintahkan
kepada kita untuk menaati perintah Allah Swt., perintah Rasulullah saw., dan
ulil amri. Tentang pengertian ulil amri, di bawah ini ada beberapa pendapat.
|
No. |
Nama ulama |
Pendapatnya |
|
1 |
Abu Jafar Muhammad bin Jarir at-Thabari |
Arti ulil amri adalah umāra, ahlul ‘ilmi wal fiqh (mereka yang memiliki ilmu dan pengetahuan
akan fiqh). Sebagian ulama yang lain berpendapat bahwa sahabat-sahabat Rasulullah saw. itulah yang dimaksud dengan ulil amri. |
|
2 |
Al-Mawardi |
Ada empat pendapat dalam mengartikan kalimat "ulil amri", yaitu: (1) umāra
(para pemimpin yang konotasinya adalah pemimpin masalah keduniaan), (2) ulama dan fuqaha, (3) sahabat-sahabat Rasulullah saw., (4) dua sahabat saja, yaitu Abu Bakar dan Umar. |
|
3 |
Ahmad Mustafa al-Maraghi |
Bahwa ulil amri itu adalah umara, ahli hikmah, ulama, pemimpin pasukan dan seluruh pemimpin
lainnya. |
Kita memang
diperintah oleh Allah Swt. untuk taat kepada ulil amri (apa pun pendapat yang
kita pilih tentang makna ulil amri). Namun, perlu diperhatikan bahwa perintah
taat kepada ulil amri tidak digandengkan dengan kata “taat”; sebagaimana kata
“taat” yang digandengkan dengan Allah Swt. dan rasul-Nya. Quraish Shihab, Mufassir
Indonesia, memberi ulasan yang menarik: “Tidak disebutkannya kata “taat” pada
ulil amri untuk memberi isyarat bahwa ketaatan kepada mereka tidak berdiri
sendiri, tetapi berkaitan atau bersyarat dengan ketaatan kepada Allah Swt. dan
rasul-Nya. Artinya, apabila perintah itu bertentangan dengan nilai-nilai ajaran
Allah dan rasul-Nya, tidak dibenarkan untuk taat kepada mereka.
Lebih lanjut Rasulullah saw.
menegaskan dalam hadis berikut ini:
لَاطَاعَةَ فِي
مَعْصِيَةِ اللهِ، إِنَّمَا الطَّاعَةُ فِي الْمَعْرُوْفِ
Artinya: “Dari Abi Abdurahman,
dari Ali sesungguhnya Rasulullah bersabda Tidak boleh taat terhadap perintah
bermaksiat kepada Allah, sesungguhnya ketaatan itu hanya
dalam hal yang makruf.” (H.R. Muslim)
Umat Islam wajib menaati perintah
Allah Swt. dan rasul-Nya dan diperintahkan pula untuk mengikuti atau menaati
pemimpinnya. Tentu saja, apabila pemimpinnya memerintahkan kepada hal-hal yang
baik. Apabila pemimpin tersebut mengajak kepada kemungkaran, wajib hukumnya
untuk menolak.
Comments
Post a Comment