Skip to main content

HIKMAH BERPAKAIN MUSLIM

 

Hikmah dari Perintah Menutup Aurat Perempuan

Perempuan Islam yang menutup aurat akan mendapat pahala, karena ia telah melaksanakan perintah yang diwajibkan Allah Swt bahkan ia mendapat ganjaran pahala yang berlipat ganda, karena dengan menutup aurat, ia telah menyelamatkan orang lain dari berzina mata.

Jilbab (busana muslimah) adalah identitas muslimah, dengan memakainya, yang beriman telah menempatkan identitas lahirnya yang sekaligus membedakan secara tegas antara wanita beriman dengan perempuan lainnya. Di samping itu, perempuan yang berjilbab (berbusana muslimah) sederhana dan penuh wibawa, sehingga membuat orang yang langsung menaruh hormat, segan, dan mengambil jarak yang wajar antara wanita dan pria, serta godaan bisa mencegah semaksimal mungkin perintah Allah swt. dalam QS Al-Ahzab ayat 59.

يايها النبي قل لازواجك وبنتك ونساء المؤمنين يدنين عليهن من جلابيبهن ذلك ادنى ان يعرفن فلا يؤذين وكان الله غفورا رحيما

Wahai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin, “Hendaklah mereka menutupkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu agar mereka lebih mudah untuk dikenali, sehingga mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang .

Jilbab (busana muslimah) merupakan psikologi pakaian, sebab menurut kaidah pokok ilmu jiwa, pakaian adalah cermin diri seseorang. Maksudnya, seseorang dapat dibaca dari cara model pakaiannya, misalnya seorang yang memakai sederhana dan yang mengatakan eksentrik dan lain-lain akan terbaca dari pakaiannya.

Jilbab (busana muslimah) ada itu dengan ilmu kesehatan kimia, karena seorang dokter ahli analisis rambut secara kimiawi berkesimpulan bahwa meskipun rambut memerlukan sedikit oksigen, namun pada kenyataan rambut mengandung phospor, kalori, magnesium, pigmen, dan cholestryl dengan palmitate yang membentul cholestryl yang sangat dapat memberikan masa aman terhadap rambut dan kulit kepala untuk membantu rambut dan kulit kepala itu sendiri. Dalam hal ini kerudung sebagai bagian dari busana muslimah kiranya cukup memenuhi syarat menjadi pelindungnya.

Manfaat Secara Personal

Merasa Dekat dengan Allah SWT.

Dengan berkerudung dan berjilbab secara syar’i, seorang Muslimah akan selalu merasa dekat dengan Allah SWT karena dengan itu ia sesungguhnya sedang menjalankan ketaatan dan kepatuhan kepada-Nya. 

Menciptakan Ketenangan Batin.

Selama berkerudung dan berjilbab dilandaskan pada panggilan iman (akidah Islam), sejatinya seorang Muslimah akan merasakan ketenangan batiniah atau kedamaian dari aspek ruhani. Sebab, dengan berkerudung dan berjilbab berarti ia telah menjalankan salah satu perintah Allah SWT yang wajib dia laksanakan, sekaligus ia telah mampu melaksanakan salah satu ibadah kepada Allah SWT. Pasalnya, berkerudung dan berjilbab tentu saja merupakan salah satu bentuk ketundukan dan dan kepatuhan kepada Allah SWT. 

Berkerudung dan berjilbab sekaligus juga menjadi salah satu bukti bahwa ia benar-benar mengikuti ajaran yang diajarkan oleh Baginda Rasulullah saw.

Selain sebagai salah satu bentuk ketundukan, bagi seorang Muslimah, berkerudung dan berjilbab juga sekaligus merupakan bentuk rasa syukur kepada Allah SWT yang telah menciptakan dirinya, memberikan rezeki kepada dirinya, melindungi dirinya sekaligus mengangkat derajatnya ke kedudukan yang amat mulia.

Dengan semua itu tentu ia amat mengharapkan keridhaan-Nya. Itulah yang akan menenteramkan hati dan jiwanya, yang dapat membuat dirinya merasa damai dan tenteram.

Terhindar dari Gangguan.

Sebagaimana disebutkan dalam QS al-Ahzab [33]: 59 terkait dengan perintah kepada kaum Muslimah untuk memakai kerudung, yaitu agar mereka dikenal (sebagai wanita merdeka) dan tidak diganggu. 

Tentu saja hikmah ini akan benar-benar dapat dirasakan oleh seorang Muslimah yang memakai kerudung dan berjilbab secara syar’i; sebuah busana Muslimah yang menutup rapat-rapat setiap inci tubuhnya yang dapat membangkitkan syahwat laki-laki jika saja sampai dibiarkan terbuka. 

Sebab, bagaimanapun, dalam diri manusia terdapat yang namanya kecenderungan seksual sebagai bagian dari perwujudan gharizah an-naw’u. 

Bagaimanapun, kecenderungan seksual ini tidak akan pernah menuntut pemuasan seandainya tidak ada rangsangan dari luar. Seorang laki-laki, misalnya, tentu tidak akan bangkit kencenderungan seksualnya jika ia dijauhkan dari melihat aurat wanita atau segala hal yang berbau pornoaksi dan pornografi. 

Sebaliknya, saat dia sering dihadapkan pada kenyataan bahwa banyak wanita di sekelilingnya yang terbuka auratnya, misalnya, tentu kecenderungan seksualnya akan bangkit. 

Selanjutnya bisa ditebak, jika benteng imannya tidak kokoh, dia bisa saja melampiaskan hasrat seksualnya pada tempat yang haram; entah berzina, melacur atau memperkosa. 

Lain halnya jika kaum wanita semuanya menutup auratnya rapat-rapat dengan memakai kerudung dan berjilbab, kemudian segala bentuk pornografi dan pornoaksi dihilangkan, tentu semua itu bisa mencegah terjadinya perzinaan atau pemerkosaan. Dengan begitu, kaum wanita pun  bisa aman dan tidak diganggu.

Alhasil, jilbab bisa lebih melindungi wanita Muslimah, membuat mereka lebih merasa aman, menjaga diri mereka dari gangguan lelaki usil, menjaga mereka dari obyek pandangan lelaki yang hanya ingin ‘cuci mata’, menjaga diri mereka dari obyek syahwat lelaki, menghindarkan diri mereka dari zina mata dan zina hati, dll.

 Menjadi Wanita Terhormat.

Dengan memakai kerudung dan berjilbab sesuai tuntunan syariah, seorang Muslimah sesungguhnya sedang memposisikan dirinya sebagai wanita terhormat. Sebab, dengan itu, penilaian dan penghormatan masyarakat kepada dirinya bukan lagi dari sisi fisik dan tubuhnya, tetapi dari sisi ketakwaannya, kecerdasannya, prestasinya dan segala hal yang menjukkan kualitas pribadinya. 

Bandingkan dengan para wanita Barat sekular yang rata-rata dianggap bernilai lebih karena faktor tubuh dan kecantikan fisiknya. Semakin cantik dan semakin seksi seorang wanita, ia akan dianggap semakin terhormat dan karenanya lebih dihargai, paling tidak secara materi. Padahal, sadar ataupun tidak, hal demikian hanya menjadikan wanita diekploitasi tubuhnya demi kepuasan material segelintir orang.
Berpeluang Menjadi Wanita Shalihah.

Bagi seorang Muslimah, berkerudung dan berjilbab secara syar’i bisa menjadi pembuktian atas keshalihan dirinya—tentu jika keputusannya berkerudung dan berjilbab dilandaskan pada faktor keimanannya dan ketaatannya pada syariah Islam. 

Selain itu, kerudung dan jilbab yang dia pakai berpotensi menjadi ‘benteng’ perilaku bagi dirinya sehingga ia akan berpikir seribu kali untuk melakukan tindakan-tindakan yang menyimpang yang bertentangan dengan citra kerudung dan jilbab sebagai pakaian takwa. Ia, misalnya, akan merasa malu jika akhlaknya buruk; sementara ia adalah wanita Muslimah yang kemana-mana berkerudung dan berjilbab. 

Sebaliknya, dengan kerudung dan jilbab yang selalu melekat pada dirinya ia akan berusaha tampil dengan akhlak yang mulia.

Meraih Pahala Melimpah, Terhindari dari Azab Api Neraka yang Menyala-nyala

Dengan berkerudung dan berjilbab sesuai tuntunan syariah tentu saja wanita Muslimah akan meraih pahala yang berlimpah dan terhindar dari azab api neraka yang menyala-nyala. 

Bayangkan, jika setiap hari ia keluar rumah dari pagi sampai sore dengan selalu menutup auratnya dengan kerudung dan berjilbab, berarti selama itu pula ia mendapatkan pahala yang melimpah dan keridhan dari Allah SWT. 

Sebaliknya, saat seharian dari pagi hingga sore ia keluar rumah, sementara ia tidak menutup aurat dengan kerudung dan berjilbab, maka selama itu pula berarti ia bermaksiat kepada Allah SWT. Itu baru seharian. Bagaimana jika setiap hari ia mengumbar auratnya? Barangkali, pahala shalatnya yang sekadar 5-10 menit kali 5 kali shalat tidak akan bisa menghapus dosanya berupa mengumbar aurat sekian jam sehari yang dilakukan setiap hari. 

Padahal ibadah shalatnya belum tentu diterima oleh Allah SWT. Tentu, jika itu yang terjadi, ancaman Allah SWT berupa azab api neraka di akhirat tinggal menunggu waktu.

Membuktikan Diri sebagai Pengikut Istri-istri Baginda Nabi saw. dan Para Shahabiyah

Istri-istri Baginda Rasulullah saw. jelas selalu tampil dengan berbusana Muslimah, dengan berkerudung dan berjilbab, saat berada di luar rumah. 

Demikian pula para Shahabiyah (para sahabat Rasulullah saw. dari kalangan wanita). Tidak ada ceritanya mereka—yang rata-rata calon penghuni surga—tidak menutup aurat dengan mengenakan kerudung dan berjilbab. Mereka tentu saja merupakan panutan seluruh kaum Muslimah. 

Karena itu, seorang Muslimah yang telah biasa memakai kerudung dan berjilbab secara syar’i berarti telah mampu mengikuti dan meneladanai para istri Baginda Nabi saw. dan para Shahabiyah ra.


sumber: 
https://www.madaninews.id/12388/hikmah-dari-perintah-menutup-aurat-bagi-perempuan.html

https://www.trenopini.com/2020/02/manfaat-dan-hikmah-berbusana-muslimah.htmlhttps://www.madaninews.id/12388/hikmah-dari-perintah-menutup-aurat-bagi-perempuan.html

Comments

Popular posts from this blog

MATERI PAI KELAS XI SESI 11 ( SYAJA’AH ) BERANI MEMBELA KEBENARAN

  MATERI PAI KELAS XI SESI 11 ( SYAJA’AH ) BERANI MEMBELA KEBENARAN PENTINGNYA SYAJA’AH Dalam agama islam ada banyak macam sifat dan akhlak baik maupun buruk yang dapat dipelajari untuk menambah wawasan pengetahuan, salah satunya yaitu syaja’ah.             Sebagai seorang muslim, mempelajari sifat-sifat yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW merupakan suatu hal yang sangat penting.           Tujuan dari mempelajari sifat seperti syaja’ah ini tidak lain yaitu supaya bisa tahu mana yang baik dan buruk untuk kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. PENGERTIAN SYAJA’AH Secara umum  syaja’ah  adalah sebuah sifat keberanian atau bisa diartikan juga sebagai sifat benar atau gagah. Kata syaja’ah sendiri digunakan untuk menggambarkan sifat kesabaran dan keberanian seseorang dimedan perang dalam membela kehormatan sebagai seorang umat islam.     ...

MATERI PAI KELAS XII SESI 12 BERPRILAKU KERJA KERAS DAN TANGGUNG JAWAB

  MATERI PAI KELAS XII SESI 12 BERPRILAKU KERJA KERAS DAN   TANGGUNG JAWAB Bekerja keras dan bertanggung jawab adalah dia perilaku terpuji (akhlak mahmudah) dalam islam. Dengan bekerja keras, seseorang tidak hanya mendapat pahala dan kemuliaan dariAllah SWT melainkan juga   menjauhkan   dirinya   dari kehinaan akibat   meminta-minta atau berutang. Dengan bekerja keras, seseorang tentu bisa memenuhi kebutuhannya sendiri sehingga tidak harus meminta belas kasihan   orang lain. Selain itu dengan menjadi pribadi yang bertanggung jawab, seseorang akan dipercaya di mata manusia lainnya sehingga ia mendapatkan penghormatan dan kemuliaan tersendiri di mata manusia. Dalam sebuah Hadits yang diriwayatkan oleh Bukhori, Rosulullah saw menyampaikan bahwa   خَيْرًا قَطُّ طَعَامًا أَحَدٌ أَكَلَ مَا قَالَ النَّبِيِّ عَنِ عَنْهُ اللهُ رَضِيَ يَكْرِبَ سَعْدِ بْنِ اْلمَقْدَادِ عَنِ يَدِهِ عَمَلِ مِنْ يَأْكُلُ كَانَ دَاوُدُ اللهِ نَبِيَّ وَإِنَّ يَدَ...

MATERI PAI KELAS XII. SESI 13 TENTANG KERJA KERAS DAN TANGGUNG JAWAB

  MATERI PAI KELAS XII. SESI 13 KERJA KERAS DAN TANGGUNG JAWAB   Hidup adalah sebuah perjuangan. Tanpa adanya usaha untuk berjuang maka manusia tidak akan bisa bertahan untuk hidup. Untuk itu manusia haruslah berjuang sekuat tenaga untuk memenuhi segala kebutuhannya sendiri. Dalam pada itu berjuang memiliki makna yang cukup luas. Di dalamnya terkandung nilai-nilai untuk bekerja keras. Tanpa adanya unsur itu apa yang kita harapkan dan cita-citakan belum tentu akan tercapai. Dengan bekerja keras dan tekun akan muncul sikap optimis dalam diri seseorang untuk menggapai cita-citanya. Dengan adanya sifat kerja keras, manusia tidak akan mudah goyah dan putus asa dalam menerjakan apa yang ia lakukan. Tidak mudah putus semangat apabila dala melakukan pekerjaannya mengalami hambatan atau bahkan kegagalan. Dalam melakukan pekerjaan unsur kerja keras    tidak boleh lepas dari dirinya. Dengan kerja keras maka    apabila     ada kesalahan atau ...