ASSALAMU’ALAIKUM
WR. WB.
Gimana Kabar
anak-anaku sekalian,
semoga
kalian semuanya ada dalam kesehatan dan keberkahan Allah swt. Amiin Ya
Robbal”alamiin
Pada Pertemuan
terdahulu kita sudah membahas mengenai
kewajiban orang yang hidup terhadap orang yang meninggal termasuk
didalamnya penjelasan tentang cara memandikan, mengkafani, menyalatkan dan
menguburkan, itu semuanya adalah kewajiab orang yang masih hidup.
Kita semuanya tidak
tahu, kapan, dimana, dan dalam kondisi seperti apa kita meninggal. Tetapi kita
bila melihat dilapangan beragam cara manusia meninggal dunia baik melalui
kecelakaan pesawat, kereta, mpbil, angin puting beliung, gempa, banjir bandang,
termasuk saat ini karena wabah Covid 19.
Anak-anaku sekalian
Perbanyaklah selalu mengingat Allah swt, baik
melalui sholat, dzikir, amal sholih dana mal baik lainnya.
Baik anak-anaku sekalian , selanjutnya
memasuki materi yang selanjutnya Menyajikan Prosedur Penyelenggaraan Jenazah.
Sebelum kita membahas lebih jauh tentang
materi ini, mari kita awali kegiatan ini dengan sama-sama membaca “ Basmallah”
Baik anak-anaku sekalian
Sebagai seorang muslim yang baik, ketika kita
mendengar ada saudara, keluarga, tetangga ditempat tinggal kita yang meninggal hendaknya selalu berta’ziyah kepada keluarga yang berduka
karena hal ini sangat dianjurkan oleh Rosulullah saw.
TA’ZIYAH
1. Pengertian Ta’Ziyah
Sebelum membahas lebih jauh mungkin diantara
kalian ada yang tahu pengertian Ta’ziyah. silahkan
Ta’ziyah/Melayat adalah kunjungan seseorang
terhadap keluarga yang mendapat musibah kematian salah satu anggota
keluarganya.
Hukum Ta’ziyah adalah sunah dan merupakan hak
muslim yang satu terhadap yang lain. Ta’ziyah sebaiknya dilakukan sebelum
jenazah di makamkan atau dikebumikan dengan maksud agar
a.
Membantu
pengurusan jenazah
b.
Ikut
menyolatkan dan mengantarkan jenazah
Dalam sebuah keterangan Hadits Rosulullah saw
menjelaskan yang artinya :
القِيامَةِ يَوْمَ الكَرَامَةِ حُلَلِ مِنْ وَجَلَّ عَزَّ اللَّهُ كَساهُ لاَّإِ بِمُصِيْبَتِهِ أخاهُ يُعَزِّي مُؤْمِنٍ مِنْ ما
Artinya:
Tidaklah seorang mukmin bertakziah sudaranya yang ditimpa musibah kecuali Allah
akan mengenakan pakaian kemuliaan pada hari Kiamat. (Ibnu Majah dan
al-Baihaqi).
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ
اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ شَهِدَ الْجَنَازَةَ حَتَّى
يُصَلِّيَ عَلَيْهَا فَلَهُ قِيرَاطٌ وَمَنْ شَهِدَهاَ حَتَّى تُدْفَنَ فَلَهُ
قِيرَاطَانِ قِيلَ وَمَا الْقِيرَاطَانِ؟ قَالَ مِثْلُ الْجَبَلَيْنِ
الْعَظِيمَيْنِ (متفق عليه)
Dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu berkata; Telah bersabda
Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam: “Barangsiapa yang menyaksikan jenazah
hingga ikut meshalatkannya maka baginya pahala satu qirath, dan barangsiapa
yang menyaksikan jenazah hingga ikut menguburkannya maka baginya pahala dua
qirath”. Ditanyakan kepada Beliau; “Apa yang dimaksud dengan dua qirath?”
Beliau menjawab: “Seperti dua gunung yang besar”. (Muttafaqun ‘Alaih,Bukhari:
1240 & Muslim: 1570)
2.
Adab/Etika Berta’ziyah
Empat Adab Orang Bertakziah menurut Imam
Al-Ghazali
a. Menghindari
sebanyak mungkin hal-hal yang tidak pantas atau tabu. Bertakziah sudah pasti
berbeda dengan menghadiri pesta perkawinan. Oleh karena itu cara kita
berpakaian dalam bertakziah tidak sebaiknya disamakan dengan cara kita
menghadiri pesta perkawinan yang cenderung glamor. Hendaknya
cara kita berpakaian dan berdandan sewajarnya saja dengan tetap menjunjung
tinggi asas kepatutan dan kesopanan.
b. Menampakkan
rasa duka. Setiap kematian seseorang pasti menimbulkan perasaan duka yang
mendalam terutama bagi keluarga atau kerabat dekat yang ditinggalkannya. Oleh
karena itu orang yang bertakziah dianjurkan untuk ikut merasakan rasa duka itu
dengan menampakkan wajah duka sambil mengucapkan secara tulus rasa bela
sungkawa. Sangat baik apabila ungkapan bela sungkawa itu diikuti dengan doa
semoga tabah dan sabar menerima musibah yang memang sudah merupakan suratan
takdir dari Allah SWT.
c. Tidak
banyak berbicara. Dalam suasana duka, orang yang sedang tertimpa musibah
kematian, biasanya cenderung diam dan tidak ingin diajak berbicara lama-lama.
Oleh karena itu orang yang bertakziah jika ingin mengajak berbicara kepada
pihak yang sedang berduka cukup seperlunya saja. Demikian pula di antara
orang-orang-orang yang bertakziah (mu'azziyin dan mu'azziyat) sebaiknya kalau
berbicara satu sama lain cukup seperlunya dan pelan agar tidak menimbulkan
suasana berisik. Apa lagi tertawa terbahak-bahak, sungguh hal ini tidak baik
dan tidak etis dari sudut mana pun.
d. Tidak
mengumbar senyum sebab bisa menimbulkan rasa tidak suka.
meskipun dalam keadaan normal senyum termasuk
sedekah, tetapi dalam konteks takziah para mu'azziyin dan mu'azziyat sebaiknya
bisa menahan diri untuk tidak mengumbar senyum. Tentu saja senyum dalam
batas-batas yang wajar masih bisa ditolerir. Intinya adalah senyum memiliki
makna kegembiraan yang dalam konteks takziah tidak baik khususnya jika
ditujukan kepada pihak yang sedang berduka sebab hal ini sama saja tidak
menghormati perasaannya.
Pertama,
jangan sampai bercanda ketika ada kematian. Rasulullah Muhammad SAW mengajarkan
umat Islam agar menjadikan kematian sebagai bahan perenungan.
Kedua,
berbicara dengan suara lantang. Orang yang bertakziah hanya boleh berbicara
seperti saat sedang berzikir.
Rasulullah SAW pernah bersabda Allah tidak
akan mengampuni orang-orang yang bersuara lantang ketika takziah.
Ketiga,
jangan dibuat pusing dengan kendaraan ketika hendak mengantarkan jenazah ke
pemakaman. Mengantar jenazah bisa dengan berjalan kaki. Menggunakan kendaraan
dibolehkan jika jarak rumah duka dengan pemakaman begitu jauh.
Keempat,
Jangan terburu-buru, tapi bersegera
Terburu-buru
berbeda dengan bersegera. Jika jenazah diketahui orang yang sholeh, maka saat
diusung mayatnya, ia akan ‘minta’ disegerakan. Dari sinilah ada kebiasaan untuk
mengusung jenazah dengan segera. Sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari
dan Muslim disebutkan:
Dari
Abi Said Al-Khudhri ra bahwa Rasulullah SAW bersabda,”Bila jenazah diangkat dan
orang-orang mengusungnya di atas pundak, maka bila jenazah itu baik, dia
berkata, “Percepatlah perjalananku.” Sebaliknya, bila jenazah itu tidak baik,
dia akan berkata,”Celaka!, mau dibawa ke mana aku?” Semua makhluk mendengar
suaranya kecuali manusia. Bila manusia mendengarnya, pasti pingsan.” (HR.
Bukhari dan Muslim)
Sementara itu, jika mengusung jenazah dengan
terburu-buru hingga mengundang marabahaya bagi yang lain, tentu harus
dihindari.
4.
Hikmah berta’ziyah
a. Menunjukan perhatian islam
terhadap orang yang terkena musibah
b. Menjalin silaturahmi
diantara sesame dengan menunjukan simpati dan antipasti
c. Menunjukan solidaritas
sesama muslim
d. Mengurangi beban keluarga
yang terkena musibah
e. Mengurangi beban kesedihan
yang berkepanjangan
f. Mendoakan jenazah dan
keluarga yang ditinggalkannya.
ZIARAH KUBUR
1. Pengertian Ziarah Kubur
Menurut Bahasa :
Mendatangi atau mengunjungi
Menurut Istilah :
Mengunjungi atau mendatangi kubur seseorang dengan maksud untuk mengambil
pelajaran yang berkaitan dengan kematian dan kehidupan di akhirat dan serta
mendoakan supaya diampuni dosa-dosanyaoleh Allah swt.
2.
Hukum Ziarah Kubur
Berdasarkan dalil-dalil dalam hadits, tidak
dapat disangsikan lagi bahwa ziarah kubur adalah hal yang diperbolehkan bahkan
tergolong sebagai hal yang dianjurkan (sunnah). Anjuran melaksanakan ziarah
kubur ini bersifat umum, baik menziarahi kuburan orang-orang shalih ataupun
menziarahi kuburan orang Islam secara umum. Hal ini seperti ditegaskan oleh
Imam Al-Ghazali:
ر لاعتبا الجملة للتذكر وا زيارة القبور مستحبة على
روزيارة قبور الصالحين مستحبة لأجل التبرك مع
الاعتبا
“Ziarah kubur disunnahkan secara umum dengan
tujuan untuk mengingat (kematian) dan mengambil pelajaran, dan menziarahi
kuburan orang-orang shalih disunnahkan dengan tujuan untuk tabarruk (mendapatkan
barakah) serta pelajaran,” (Al-Ghazali, Ihya’ Ulum ad-Dien, juz 4, hal. 521).
Dalam riwayat yang lain, Rasulullah tidak
hanya memerintahkan ziarah kubur, tapi beliau juga menjelaskan manfaat-manfaat
dalam melaksanakan ziarah kubur. Hal ini seperti yang dijelaskan dalam hadits
berikut:
كُنْتُ نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُورِ أَلَا
فَزُورُوهَا
فَإِنَّهُ يُرِقُّ الْقَلْبَ، وَتُدْمِعُ
الْعَيْنَ، وَتُذَكِّرُ الْآخِرَةَ، وَلَا تَقُولُوا هُجْرً
“Dahulu saya melarang kalian berziarah kubur,
tapi (sekarang) berziarahlah kalian, sesungguhnya ziarah kubur dapat melunakkan
hati, menitikkan (air) mata, mengingatkan pada akhirat, dan janganlah kalian
berkata buruk (pada saat ziarah),” (HR. Hakim).
Perilaku ziarah kubur juga dilakukan oleh
Rasulullah, hal ini beliau lakukan setelah malaikat Jibril menemui Rasulullah
seraya berkata:
إِنَّ
رَبَّكَ يَأْمُرُكَ أَنْ تَأْتِيَ أَهْلَ الْبَقِيْعِ فَتَسْتَغْفِرُ لَهُمْ
“Tuhanmu memerintahkanmu agar mendatangi ahli kubur baqi’ agar engkau
memintakan ampunan buat mereka” (HR. Muslim)
3. Adab/Etika Ziarah Kubur
1.
Berwudhu Sebelum Ziarah
Sebaiknya sebelum berangkat ziarah kubur, dapat mengambil air
wudhu terlebih dahulu dari rumah. Apabila batal di perjalanan, dapat wudhu di
kamar mandi atau fasilitas umum dekat pemakaman.
2.
Mengucapkan Salam
Rasulullah SAW mengajarkan kita untuk mengucapkan salam yang juga
sekaligus doa ketika masuk ke dalam area pemakaman.
Assalamu Alaikum Ahlad-Diyaar Minal Mu miniina Wal Muslimiin.
Yarhamulloohul Mustaqdimiina Minnaa Wal Musta khiriin. Wa Inna Insyaa Alloohu
Bikum La-Laahiquun. Wa As Alullooha Lanaa Walakumul Aafiyah.
Artinya: Semoga
keselamatan tercurah kepada kalian, wahai penghuni kubur, dari (golongan)
orang-orang beriman dan orang-orang Islam, semoga Allah merahmati orang-orang
yang mendahului kami dan orang-orang yang datang belakangan. Kami insya Allah
akan menyusul kalian, saya meminta keselamatan untuk kami dan kalian
3.
Menghadap Kiblat saat berdoa untuk almarhum dan berdzikir
Membaca
tasbih, takbir dan tahmid juga sangat dianjurkan untuk menyempurnakan doa Anda
kepada orang-orang yang Anda doakan pada saat melakukan ziarah kubur.
4.
Membaca ayat-ayat pendek
5.
Menghindari duduk dan menginjakinginjak bagian atas kuburan
6.
Tidak melakukan hal yang berlebihan, misalkan minta sesuatu ke
kuburan, mencium batu nisan atau menangis sambil
meratapi makam di depannya.
4. Hikmah dan Tiujuan
a. Mengingat kematian
b. Menyadari bahwa setiap
orang pasti akan mati sehingga dapat mempertebal keimanan kepada Allah SWT.
c. Dapat bersikap
zuhud(Menjauhkan diri dari sifat keduniawian)
d. Selalu ingin berbuat baik
sebagai bekal kelak di alam kubur dan hari akhir
e. Mendoakan si mayat yang
Muslim agar diampuni dosanya dan diberi kesejahteraan di akhirat
f. Mendapat pahala dari Allah
SWT. karena ziarah kubur termasuk amalan sunah.
Anank-anaku
Sekalian Demikian Pembahasan kita pada pertemuan kali ini semoga dapat dipahami
dan menjadikan kita lebih baik dan taat dalam menjalankan agama sehingga dapat
meraih Surganya Allah swt. Amiin ya Robbal’alamiin.
Mari kita Tutup pembelajarn kita hari ini
dengan membaca “Hamdalah”
Comments
Post a Comment